japanalivestory

Terima Kasih Atas Empatimu, Kawan!

“Mama, aku main ya, udah janjian sama teman-teman tadi pas di sekolah. Mau ke Jangguru Koen, nanti keliling pindah taman sambil cari teman yang lain. Mampir juga ke Yamada Koen.”

Si sulung pulang sekolah memberondong izin untuk main ke taman bersama teman-teman Jepang.

“Jauh lho itu,” timpal saya.

“Enggak, Ma. Asyik malah, main aja sambil nunggu buka puasa. Aku salat dulu.”

Mamanya ditinggal mematung dalam rasa was-was. Anak ini sudah sejak pagi sekolah, pulang sore, masih mau lanjut bermain.

Sebenarnya pekan depan sudah libur nasional dalam rangka golden week, jadi tak perlu ribut mempersiapkan sekolah. Ya, tak mengapa jika si anak banyak bermain. Tetapi saat ini sedang masuk bulan Ramadan bagi umat muslim. Pikir saya, lebih baik istirahat saja tidur sore dari pada capek, haus, dan lapar. Apalagi matahari sedang lumayan terik di bulan Mei ini. Kawan-kawan Jepang tidak ada yang puasa, pastilah nanti si sulung melihat kawannya minum air segar di tengah ia menahan dahaga karena berpuasa.

Hampir tiga jam bermain, si sulung sudah kembali ke rumah. Bercerita lagi pada mamanya yang masih memasak untuk persiapan buka puasa.

“Ma, tadi aku main sama Sion. Aku naik sepedanya dia, dipinjamkan, katanya biar aku enggak capek. Dari Jangguru ke 7-Eleven ikutin dia jajan. Katanya, kamu tak beliin jus ya, haus kan?”

“Kok bisa temanmu bawa sepeda, emang boleh?”

“Katanya enggak apa-apa, aku juga pengin naik sepeda tapi takut ah kalau enggak sama orang tua.”

Di Jepang aturannya sebelum anak dapat “SIM sepeda”, tidak boleh bersepeda sendiri tanpa orang tua. “SIM sepeda” ini didapat sebelum kelas lima.

“Terus Mas, kamu lihat teman-temanmu makan jajan di 7-Eleven?”

“Iya, aku ditawari minum. Hahaha. Aku bilang aku masih kuat puasanya. Terus ya udah aku baca aja buku cerita yang gratisan itu lho, Ma.”

“Habis itu ke mana lagi?” Tanya saya terus menyerocos karena belum habis rasa was-was dalam diri.

“Ke Yamada Koen, tapi enggak ada yang main, ya udah cuci muka aja biar segar.”

Mamanya menyimak sambil buka google map, menghitung berapa kilometer jarak si sulung bermain keliling kampung.

“Mau diajak ke Mikasa Gawa cari serangga, kata Sion jangan nanti aku capek kan lagi puasa. Jadinya ke rumah Fumi main aja di sana. Terus mampir kouminkan buat istirahat. Tadi aku diantar Sion lho Ma, sampai perempatan situ.”

“Baik banget temanmu. Kamu pusing?” tanya mamanya masih khawatir.

“Enggak, Ma.”

Syukurlah Nak.

Saya belajar apa itu empati dari anak-anak Jepang. Meskipun mereka tidak merasakan puasa seperti apa yang si sulung rasakan, tapi sikap dan perhatiannya sungguh membuat hati saya tersentuh.

Jadi sebenarnya, orang yang sedang berpuasa itu harus dihormati atau menghormati?

Kalau semua minta dihormati tidak akan ada yang dapat kehormatan. Tapi kalau saling menghormati, semua akan dapat kehormatan.

Puasa artinya menahan hawa nafsu. Maka kita yang sedang berpuasa ini wajib menahan nafsu saat melihat makanan, bukan malah menyalahkan dan meminta orang lain untuk menyembunyikan makanan. Bukankah setiap orang memiliki kebutuhan berbeda? Dan kita sebagai muslim wajib menghormati dan menghargai kebutuhan orang lain, sekalipun mereka berbeda keyakinan dengan kita.

Standard

One thought on “Terima Kasih Atas Empatimu, Kawan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s