japanalivestory

“Ha, Islam? Apa Itu?”

Ada beragam pertanyaan dan rasa penasaran dari kawan-kawan Jepang anak sulung saya terhadap Islam, agama yang kami anut. Hal itu pasti dikarenakan kebiasaan kami yang berbeda dengan mereka dan sangat menonjol. Bagaimana tidak menonjol, jika hanya dia, anak sulung saya yang menjadi satu-satunya orang Islam di kelasnya. Praktis segala aktivitasnya, mulai dari beribadah salat Jumat dan puasa ramadan menyedot perhatian kawan-kawannya.

Sering juga anak sulung saya kewalahan menjawab. Ketika itu dia memberikan alasan tidak banyak bermain sebab sedang berpuasa. Lalu dia melanjutkan, “Kalau di kepercayaan agama Islam itu ya ada puasa.” Pernyataan ini, malah memicu pertanyaan lain dari kawannya. Mulanya menjawab satu pertanyaan, malah memunculkan pertanyaan lain. Rumit bukan?

“Ha, Islam? Apa itu?” tanya teman Jepang yang masih keheranan.

Ya, agama Islam ini masih asing di Jepang. Bisa dikatakan warga Jepang pun cuek dengan kehadiran Islam. Masjid di Jepang meskipun ada, namun secara fisik tidak mengundang perhatian rakyat Jepang. Hanya orang Jepang tertentu saja, biasanya yang pernah berhubungan dengan orang asing yang paham tentang masjid dan Islam.

Bangunan masjid hampir mirip dengan apato (apartemen) Jepang. Suara azan juga tak dikumandangkan keras hingga keluar masjid. Kebijakan ini dilakukan setiap masjid di Jepang dalam rangka agar bisa hidup berdampingan dengan warga Jepang secara baik. Jepang menyukai ketenangan, maka kebijakan tidak mengeluarkan suara azan hingga ke luar masjid ini yang dipilih. Maka tak heran jika kehadiran Islam masih asing bagi mereka.

Kepercayaan (agama) Islam, dalam bahasa Jepang disebut dengan Isuramu kyo. Kyo artinya kepercayaan, sedangkan Isuramu itu Islam. Ketika dijawab dengan menyebut kata kyo, kawan-kawan Jepang akan lebih mudah memahami. Bagi mereka kata kyo sepadan dengan kepercayaan yang dimiliki masyarakat Jepang pada umumnya.

Pikiran saya terkadang menerawang, bahwa saya punya andil untuk memperkenalkan Islam kepada orang Jepang. Bukankah sebagai umat muslim, tugas kita juga turut mengenalkan agama Allah ini kepada nonmuslim? Menjadi seorang muslim ibarat menjadi duta atau perwakilan Islam. Seringkali kita abai akan tugas kita sebagai duta islam. Kita memilih menjadi muslim yang biasa saja. Padahal orang di luar Islam melihat Islam ya dari diri kita ini. Sudahkah kita menjadi duta Islam di lingkungan kita masing-masing?

Mengenalkan Islam di Jepang, meliputi segala aspek keimanan yang saya jalankan bersama keluarga. Segala perilaku dan kebiasaan tentunya diperhatikan oleh sensei dan beberapa orang Jepang yang kami kenal. Dimulai dari memilih makanan halal. Kami membuktikannya dengan membawa bekal sendiri untuk makan siang di sekolah. Lalu saat ramadan tiba, kami menjelaskan kepada sekolah bahwa ada kewajiban ibadah yang dinamakan puasa.

Puasa atau danjiki dalam bahasa Jepang, telah lama ada sepanjang sejarah umat manusia. Di kepercayaan agama lain, Budha yang dianut orang Jepang misalnya, telah ada istilah danjiki. Bagi mereka, puasa dilakukan ketika ada kerabat yang meninggal dunia. Mereka tidak mengkonsumsi daging pada hari itu.

Danjiki untuk kepercayaan agama Islam, dimaknai pula sebagai aktivitas tidak makan oleh orang Jepang, dari pagi hingga petang. Adalah penjelasan yang hingga keberadaan kami di tahun keempat menjadi semakin biasa. Sensei sudah hafal dengan kebiasaan kami dan mudah dalam menjelaskannya kepada murid lain. Ya namanya anak-anak pasti punya rasa ingin tahu yang tinggi, mengapa tidak ikut makan padahal sudah jam makan siang.

Kini semakin modern ilmu pengetahuan, salah satu ibadah umat muslim, yaitu puasa turut serta dalam penelitian yang berkembang. Seperti anak-anak Jepang yang sangat ingin tahu apa itu puasa, maka ilmuwan nonmuslim pun turut serta mencari tahu mengapa harus berpuasa.

Puasa bagi orang muslim bertujuan untuk memperbaiki dan menyehatkan tubuh. Disebut sehat karena dengan berpuasa, artinya seseorang telah mengurangi asupan makanan dan mempertahankan gaya hidup yang lebih sehat. Terlebih, memanjakan tubuh dengan makanan secara berlebihan juga tak baik bukan? Dalam ilmu kesehatan, juga disebutkan bahwa tidak dianjurkan untuk makan berlebihan. Makanlah secukupnya untuk menghilangkan rasa lapar.

Penelitian di dunia ini yang dilakukan oleh nonmuslim telah banyak membuktikan bahwa puasa membawa banyak manfaat terhadap kesehatan. Puasa membuat tubuh lebih kuat, lebih ramping, dan lebih bersih tentunya.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s